Postingan

Sadar Usia, Tiada Karya

Di angka yang mungkin tergolong sebagai remaja bontot, dua satu menunjukkan bahwa DUA (dunia-akhirat) adalah SATU (semua kepunyaan tuhan). Di periode ini, seharusnya kita bisa lepas dari DUA (donasi Ibu-Ayah) menjadi SATU (usaha atuh). Sejalan dengan akronim yang saya buat-buat, dua satu juga memperlihatkan angka yang matang untuk mengolah rasa. Segala macam rasa, baik yang kita rasakan dari orang maupun sebaliknya.  "Kalau belum seimbang antara urusan dunia dan akhirat, belum benar hubungan kepada sesama dan Tuhan, hidup masih ditanggung orang tua, apalagi emosi masih kocar-kacir, aku kudu piye?" Mana saya tahu, saya juga masih begitu. Memang, saya tidak sesuper Mario Teguh, tidak sesemangat Merry Riana, tidak setegas Najwa Shihab, tidak sekocak Raditya Dika, dan tidak selucu negeri ini. Tidak juga sebegitu berpengaruh pada sekitar seperti para buzzer dan influencer. Keberadaan saya cukup untuk disyukuri keluarga, kenihilan saya pun tidak akan mengguncang dunia.  Tapi: kepal...

BUDDHA: Mawas Diri terhadap Pertiwi

 oleh Aida Harfitta Nurulinda Tidak perlu dipertanyakan lagi betapa tempat yang kita tinggali ini amat indah dan nyaman. Tuhan telah menghamparkan sebaik-baiknya tempat yang bisa dihuni ciptaan-Nya. Udara bebas dihirup siapa pun, perairan bisa dimanfaatkan, bebatuan dan tumbuhan dapat diolah untuk memenuhi kebutuhan manusia. Falsafah hidup berbagai agama, termasuk agama Buddha menghendaki keseimbangan antara pemenuhan kepentingan material dan spiritual. Buddhadharma menghubungkan lingkungan alam dengan kebutuhan manusia untuk menumbuhkan atmosfer kebahagiaan di muka bumi. Menyadur tulisan Rospita O.P. Situmorang dan Johansen SIlalahi, Agama dan Konservasi Lingkungan: Pandangan Agama Buddha pada Pengelolaan Taman Alam Lumbini , terdapat empat poin penting mengenai prinsip agama Buddha tentang pelestarian lingkungan. Pertama, ajaran bahwa ada hubungan timbal balik yang saling berinteraksi dan memengaruhi ( Paticcasamuppada ). Kondisi alam sangat bergantung pada tata kelola manu...

HINDU: Kerukunan dan Perdamaian

 oleh Aida Harfitta Nurulinda Budi Raharjo dan Suryanto dalam tulisannya, Kerukunan dan Perdamaian dalam Konsep Hindu memaparkan banyak faktor yang berpotensi memecah belah kesatuan. Misalnya eksklusivisme, puritansi agama, dilema solidaritas, dilema kepatuhan, analisis satu sisi, dilema prasangka, maupun dilema kepentingan politik dan kekuasaan. Kemungkinan-kemungkinan yang disebutkan di atas dapat membawa dampak negatif jika dibiarkan. Terlebih, apabila sudah menyinggung perihal sensitif seperti agama. Maka dari itu, diperlukan wadah untuk meminimalisir retakan pada masyarakat, salah satunya dengan dialog lintas agama. Yang perlu diperhatikan, tokoh yang terlibat dalam dialog hendaknya memahami letak ‘kesensitifan’ agama lain supaya tidak saling singgung atau menjatuhkan. Dalam artikel Binus University yang berjudul Perdamaian dalam Agama Hindu, pustaka suci Veda memuat nilai-nilai luhur untuk menciptakan kedamaian di muka bumi. Nilai-nilai tersebut ialah: 1. Ahimsa (tanp...

KHONGHUCU: Kebajikan dan Kebijakan

 oleh Aida Harfitta Nurulinda Agama Khonghucu (istilah Tiongkok, Ru Jiao ) dikenal dengan ajarannya yang sangat menjunjung nilai-nilai moral. Banyak ajaran tentang kebajikan dan kebijaksanaan yang menjadi pedoman hidup penganutnya. Kemunculan Nabi Kong Zi sebagai penyebar ajaran ini membawa nilai moral yang mengatur perilaku manusia agar dapat hidup damai dan seimbang.    Dalam History of Religion karya Allan Menzies, sejarah Cina menyatat bahwa kondisi negara Cina (karakter, perilaku, dan lembaga-lembaga masyarakat) sudah mapan sejak dulu. Masyarakatnya beradab dengan agama yang terorganisir. Raja-raja awal kerajaan adalah orang saleh, dan penulis ajaran kebajikan, meski seiring waktu kondisi tersebut mulai berubah. Sebagaimana Lao Zi, penyebar agama Tao, Nabi Kong Zi juga membangun karyanya di atas sistem catatan-catatan kuno. Ia tidak menciptakan agama baru, melainkan menjadi pembaharu agama. Bedanya, ajaran Konfusius tidak lagi berbicara tentang elemen kuno yang ...

KATOLIK: 10 Perintah Allah

 oleh Aida Harfitta Nurulinda Sepuluh Perintah Allah (bahasa Latin, Dekalog ) terdapat dalam Perjanjian Lama, yang diberikan kepada bangsa Israel dengan perantara Nabi Musa di Gunung Sinai. Dasa Titah ini juga dipercaya dalam Katolik, yang merupakan dasar dari seluruh tema Alkitab. Perintah ini tertulis pada dua loh batu, yang mana batu pertama menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan batu kedua menjelaskan hubungan manusia dengan sesamanya. Kesepuluh perintah itu terdapat dalam Keluaran 20: 1-17, yang intinya antara lain: 1. Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesatu 2. Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat 3. Kuduskanlah hari Tuhan 4. Hormatilah ibu-bapamu 5. Jangan membunuh 6. Jangan berzina 7. Jangan mencuri 8. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu 9. Jangan mengingini istri sesamamu 10. Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil Kesepuluh perintah di atas menggam...

KRISTEN: Cinta Kasih Pada Sesama

oleh Aida Harfitta Nurulinda  Tidak jauh berbeda dengan tulisan sebelumnya mengenai Islam, saling mencintai dan mengasihi sesama adalah hukum kedua dari ajaran Kristen. Dalam Islam, hukum pertama adalah hablu minallah (hubungan dengan Tuhan). Dalam Kristen pun demikian, Yesus Kristus menerangkan bahwasanya hukum yang terutama dalam hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan. Kasih kepada sesama menjadi bagian yang penting. Banyak ayat dalam Alkitab yang menganjurkan cinta kasih. Salah satunya dalam Markus 12:31, Dan hukum yang kedua ialah: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini . Mengutip dari buku The History of Religion karya Allan Menzies, bahwa, “Agama Yesus, oleh karena itu adalah agama cinta saja. Sifat ilahi diwujudkan dalam cinta, dan dorongan yang dikomunikasikan agama, hanya dorongan untuk dicintai dan mencintai.” Sifat ...

ISLAM: Kasih Sayang Bagi Semesta Alam

 oleh Aida Harfitta Nurulinda Sebagai agama besar dunia, Islam yang dibawa Rasulullah SAW telah melewati banyak fase sehingga dapat dianut dan dikenal oleh umat manusia. Ajaran yang menegakkan Tauhid ini membawa kasih sayang yang disebarkan tidak hanya pada diri sendiri, namun juga sesama manusia, makhluk hidup, serta lingkungan. Islam menganjurkan untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia, penyamaan derajat antara perempuan dan laki-laki, menjaga alam dan isinya, serta menjaga manusia agar tetap sesuai kodratnya. Rasulullah SAW hadir di dunia ini dengan membawa rahmat yang ada dalam dirinya. Rahmat itu bukan hanya untuk umat Muslim semata, namun juga untuk umat non-Muslim. Dari sini, jelas sekali bahwa dalam menyebarkan kasih sayang, Islam tidak membeda-bedakan objeknya. Sebagaimana tertera dalam Surah al Anbiya ayat 107, yang artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Tidak ada redaksi ‘bagi umat Islam saja’ di d...

Tertekan Muntah

Tulisan sulit mengalir jika sengaja diminta, atau malah kadang jadi lebih bagus. Kata saudaraku, Egha Mahendra, keseriusan muncul ketika kita dalam keadaan tertekan. Aku belum dapat argumen untuk membantah hal itu, tapi mungkin untuk sekarang, aku setengah setuju. Saat isi kepala mendesak untuk dimuntahkan, saat itu pula jemarimu lincah tergerakkan. Tapi, saat isi kepala beku dan didesak untuk memuntahkan, saat itu pula jemarimu lari ke sana kemari tak karuan. Saat kau membaca hasil “saat” yang kedua, saat itulah kau tahu bahwa tulisanmu bak kapal pecah. Tekanan memang memunculkan keseriusan, dan peningkatan adrenalin serta kepala nyut-nyutan. Bagi mereka yang tak terbiasa bekerja dalam tekanan, kadang di tengah jalan muncul rasa ingin menyerah. Sebaliknya, bagi yang suka tantangan, maka ini adalah wahana menyenangkan. Bekerja di bawah tekanan mampu membuktikan seberapa matang kemampuan kita ketika diberi tanggung jawab secara mendadak, apalagi tenggat. Hasil yang tercipt...

Imperial Kolonialis

Mungkin memang aku yang terlalu egois. Aku selalu memegang doktrin “ikan tidak bisa memanjat, monyet tidak bisa terbang, burung tidak bisa berenang”. Diam, dan jangan kaitkan dengan undan atau penguin. Nyatanya, aku menghancurkan pondasiku sendiri. Atas dasar ambisi untuk menghidupkan literasi dunia digital, mata dan hatiku buta. Aku, yang dengan kerasnya menghina kolonialisme, tanpa sadar malah menjadi kompeni itu sendiri. Benar, semut di seberang pulau memang nampak. Kupikir aku terlalu memaksa, mungkin lebih kejam dari Daendles. Ada Anyer-Panarukan baru yang kuciptakan, buktinya ada di dunia digital. Aku memeras keringat mereka–dan kalian, para korban yang mungkin membaca ini–untuk membuat jalan. Apa kalian lebih baik, para korbanku? Tapi, aku tidak berhenti. Saat itu, mungkin aku terlalu membawa hati. Tuhan sengaja menggagalkanku untuk bisa berdiri lebih baik saat ini. Tantanganmu, Watermark (nama teman sekaligus rivalku), tak dapat kusanggupi. Seratus kurang dua pul...

Tumpah Ruah

Perjalanan yang panjang: dari sendiri, bersama, ramai, hingga akhirnya tutup usia, bersama, dan menyendiri lagi. Semua tiba-tiba sirna, memang jenuh adalah rasa yang membunuh. Sungguh. Jika hanya berlari sendiri, tentu sangat melelahkan. Tapi jika berlari ramai-ramai, tentu sangat menyenangkan. Meski kau mati suri oleh senang, namun kau terbukti telah berjuang.  Di sudut sepi, aku duduk sendiri. Menoleh kanan-kiri, hanya dinding dan kursi. Tidak ada suara tawa dan denting tombol ketik yang beradu. Asap-asap kepala kini terembus, tidak ada lagi aroma kepuasan atas anak yang telah dilahirkan. Surai itu perlahan memutih, tanahnya dingin, tak sepanas dulu lagi saat ia memuntahkan isinya. Kalau sudah kadung begitu, barulah sesal penuh ratap sebab nama menguar penuh kelabu. Aku rindu masa-masa itu. Masa yang membuat kita berlagu, yang pasti sebelum aku dikalahkan oleh nyamuk. Aku rindu ketika seseorang mengingatkan masa-masa itu. Masa yang membuatku terobsesi oleh angka. Aku rin...

Hanya

Dingin Itu yang kurasakan. Mentari dingin, Tidak ada lagi cahaya jingga menghangatkan. Langit biru menatapku, Dengan senyum dingin meremehkan. Api unggun, Menyala terang di udara membekukan. Tangan panjang yang biasa Terulur, Tergenggam, Tertaut, Tenggelam. Kupikir hari ini akan indah, Kupikir hari ini akan menyenangkan, Kupikir hari ini akan, Hanya akan Hanya kupikir Hanya akan kupikir. Biarlah hanya menjadi dinginnya neraka dalam benak. 09/06/2019

Sepekan Saja

                                                            SEPEKAN SAJA             Pagi yang cerah menghirup udara yang diberikan Tuhan . S ebuah nikmat untuk semua manusia, dan saya tidak mau menyia-nyiakan nikmat itu. Jangan terlalu jauh dalam mendalami judul di atas. Tatkala, jika kita dipertemukan dengan sosok yang sebelumnya belum pernah bertemu apalagi dengan namanya. Bagaimana dengan kalian , apakah pernah seperti apa yang saya alami? Hanya saja, Tuhan berkehendak lain untukmempertemukan antara saya dan dirinya di dalam sebuah program kerja. Tepatnya hari K amis, kita dipertemukan d...