Benih-Benih Tertandas

Kini aku paham kenapa musim berganti. Tuhan memang sangat adil, Ia sampai memikirkan hal terkecil untuk membahagiakan kami. Ketika hujan membasahi bumi, benih-benih menggeliat mengeluarkan akar kecil. Kala itu, semua bersemi seakan tak ada hari lain lagi. 

Ratusan benih berlomba menembus tanah untuk menampilkan eksistensinya. Namun kemudian, beberapa di antara mereka tak mampu bertahan lebih lama. Hilang. Lenyap, termakan tanah. Benih-benih itu kembali tertimbun oleh dunia.

Ketika musim semakin tak menentu, mereka kian merapuh. Ada yang tetap kukuh menapak di permukaan, ada pula yang memilih terjerembab di kedalaman. Satu per satu berguguran. Kala itu, tersisa 2 benih yang tetap bersemangat menembus dingin dan kuatnya angin. Telapak mereka seolah telah menembus tanah tujuh lapis, sehingga angin pun tak sanggup menggoyahkan.

Tapi ternyata, mereka pun menyerah. Bahkan salah satunya mendeklarasikan bahwa ia telah meninggal. Turut lenyap ditelan tanah basah. Satu benih lainnya berkata, aku akan bangkit pada waktunya. Ia hanya beristirahat menunggu semi kembali datang.

Dan sekarang, kembali aku yang tersisa. Menjadi pengisi jalanan kosong agar manusia tetap mendapat udara segar. Aku ada.

Edisi Kembali Sendiri, oleh Calon Sarjanawati.

Komentar

What's on?

Tentang Aku dan Sebuah Tragedi

Islamic Tolerance

Andai Kata Dunia..

Bukan Mahabarata

ILY