Warung Kang Asep 2
cerita sebelumnya :
Marilah berfikir positif. Bukan mau sombong, tapi sesekali jadilah orang dermawan, toh sisanya cuma 2 ribu, agar dia berfikir saya orang baik benaran.
Sambungan..
Dan setelah dari warung kang Asep, aku langsung pulang karena mengantuk. Jika
ada alasan lain selain mengantuk,
aku akan tetap bilang ngantuk.
Biarlah warung kang Asep tetap menjadi tempat
favorit, karena di sana perutku bisa kenyang. Terima
kasih kang Asep, kau sudah mau melayaniku dengan sangat baik, walaupun aku bukan
anakmu, tapi aku datang sebagai tamumu.
Tamu yang sedang kelaparan.
Semoga suatu saat aku yang bisa melayanimu jika aku buka warung.
Aku tidak terlalu memikirkan pacarku yang aku
rasa tidak perlu di fikirkan, biarlah dia bisa berfikir sendiri. Dan aku
langsung tidur dengan membaca doa yang ku ingat,
karena takut ada makhluk halus yang mengganggu.
Dan saat tidur, aku tidak sadar, aku tidak mau cerita.
Aku
bangun karena kaget, kenapa ayam selalu berkokok?
Ayolah, satu hari saja jangan
berkokok supaya aku
bisa tidur dengan nyenyak walaupun jam sudah menunjukkan jam 9. Aku ke kamar mandi untuk cuci
muka, dan mandinya nanti saja. Masih
memikirkan yang tadi
malam, dia tidak bisa datang, dan
semoga dia baik baik saja.
Lalu tiba-tiba criing hp ku
berbunyi yang bertanda ada pesan. Setelah
ku buka, rupanya dari dia (pacarku),
panjang umur rupanya kataku dalam
hati, jika tidak maka dia tidak akan chat.
"Hay"
katanya
"Iya" kataku
"Lagi
apa?"
"Lagi tidak sibuk"
"Km
kan memang pengangguran"
"Haha masih ingat rupanya"
"Yaiyalah
aku ingat kamu kan pacarku"
"Terima kasih sudah mau menganggapku
pacar."
"Dari
dulu kan?"
"Dari zaman sebelum adam dan hawa?"
"Bukan
lah km mah bercandanya terlalu"
"Katanya dulu"
"Tapi
itu terlalu keduluan"
"Maunya"
"Kita
nikah"
"Haha janganlah aku kan
pengangguran"
"Kapan2
maksudnya"
"Doain saja"
"Udah
dulu ya aku mau bantu ibu"
"Bantuin apa? Bantuin makan?"
"Bantu
nyiapin makanan persiapan aku kan mau jadi calon ibu"
"Ibu guru mau?"
"Ibu
anakmu lah"
"Ok siap, ibu"
Aku cuma mau membuatnya senang dengan caraku
sendiri, dan aku hanya ingin tau ada senyuman di wajahnya walaupun aku tidak
melihatnya. Aku
rasa dia senang dengan caraku, walaupun aku tidak bisa membaca hatinya.
Dan dari pada di kamar sendiri, mending aku jalan dengan
kuda ku (motor), yang tentunya bukan cari angin, angin mah tanpa dicari ada
sendiri dan di kamarku
selalu ada angin yang bernama kipas angin.
Aku usap-usap dulu
kudaku dan aku bilang kita jalan-jalan yuk,
mungkin dia akan bilang jalan aja sendiri,
dan aku tidak mendengarnya. Kita
harus tau semua ciptaan Tuhan yang ada di bumi kataku bicara sama
kuda, dia hanya diam. Dan tanpa memikirkan jawabannya, aku langsung menyalakan
kudaku dan berangkat, tentunya dengan doa agar selamat dan menyenangkan.
Edisi Anekdot Baik-Baik, oleh Manusia Baik.
Komentar
Posting Komentar