Warung Kang Asep


Malam sudah mulai larut, aku menunggu, ku kira dia akan datang, dan kucoba hubungi lewat telepon. Dia mengangkatnya, dan ku mulai menyapanya.

Hallo
Iya hallo
Kamu dimana? Jadi kesini gak?
Aku masih dirumah, aku gak boleh keluar sama ibu soalnya sudah malam.
Oh ya udah gapapa
Kamu gak marah kan?
Marah? Tidaklah, ibumu benar, sekarang sudah malam. Ya sudah kamu tidurlah.
Iya, makasih ya.
Iya sama-sama.

Aku rasa aku tidak perlu marah dengannya, tentunya ada sedikit rasa kecewa, dan ku rasa itu hal normal dalam diri manusia. Aku pulang dengan rasa yang tidak wajar, biarlah bumi ini jadi saksi, bahwa aku pernah jalan di sini sendiri dengan rasa kecewa. Ah, mungkin bumi ini akan bilang, "tak perlulah kau sedih, aku lebih suka kau jalan sendiri karna lebih enteng bagiku." Dan aku hanya bisa berdebat dengan diriku sendiri. Kenapa dia tidak bilang dari tadi kalau tidak bisa, ah sudahlah mungkin dia tidak punya pulsa untuk menghubungiku. Akhirnya aku sampai di motor dan mulai naik untuk pulang, dan dalam perjalanan aku melihat bumi ini lebih tenang jika di malam seperti ini tidak ada perusak, dan tentunya tidak berisik. Dengan dingin yang tidak terlalu menusuk tulang, hanya jaket kumal ini yang bisa melindungiku dari dinginnya malam. Kulihat hanya aku yang masih dijalan, apakah hanya aku yang kecewa di bumi ini? Aku terlalu dramatis sehingga menganggap semua itu sebagai duka. Mungkin tanpa ini, aku tidak bisa menikmati malam dengan alam ini.

Dan tiba-tiba aku merasa lapar, aku coba mencari warung makan yang masih buka. Karna aku tau di kos tidak akan ada apa-apa yang bisa ku makan. Cukup jauh motor ini berjalan, akhirnya aku menemukan warung yang masih buka. Namanya "warung makan kang asep 24 jam" dan aku mampir untuk mengisi bensin perut. Karena motor sudah ku isi full tadi, dan dia tidak akan merasa kelaparan selama 2 hari mungkin. Aku mulai mencari tempat duduk dan banyak yang kosong, ku pilih satu karna aku sendiri, dan tiba-tiba ada yang menghampiriku untuk bilang,

Mau pesen apa mas?
Saya jawab, alaikum salam dan dia bingung lalu bilang begini,
Assalamu alaikum
Ku jawab, Ada nasi goreng?
Oh ada mas bentar ya, dengan masih perasaan bingung mungkin, karena aku tidak bisa baca perasaan seseorang.
Jangan lama2 ya kang?
Ok siap.

Aku menunggu sambil melihat sekitar, siapa tau ada yang ku kenal, rupanya tidak ada orang sama sekali. Hanya aku sendiri di sana yang sedang kelaparan. Kira-kira 10 menit, yang ku pesan sudah tiba, dan perasaan ku masih tidak lega karna belum memakannya.

Dan aku bilang begini, kok cepet banget kang?
Iya cuma nasi goreng mah cepet.
Tapi tulisannya didepan kok 24 jam kang?
Haha itu mah bukanya warung mas.
Oh suka ketawa rupanya.
Hehe iya mas karna lucu.
Bentar ya kang tunggu di sini aku coba dulu enak gak.
Oh iya mas silahkan
Enak kang seperti nasi goreng biasanya.
Iyalah mas masak mau rasa bakso kan itu nasi goreng
Tapi harus ada yang berbeda kang dengan warung lainnya
Nasi goreng mah dari dulu gitu-gitu aja mas gak pernah ada rasa soto
Tapi aku punya cara untuk membedakan nasi goreng ini dengan warung lainnya kang, gimana mau tau gak?
Apa mas?
Gratisin, pasti rasanya beda dengan warung lainnya dan pasti disini rame terus.
Haha mas mah bercanda, ya iyalah mas namanya juga gratis pasti banyak yang datang
Haha aku cuma bercanda kang, tapi kalo mau ya gapapa aku senang
Aku yang tidak senang mas
Haha aku makan dulu kang takut dimakan angin nasinya
Emang angin bisa makan mas?
Takut dingin maksudnya.
Oh iya mas silahkan.

Dan sarapan pun selesai dengan rasa kenyang. Akhirnya aku bisa tenang, aku masih duduk, tak  langsung pergi agar nasi di dalam perut bisa berjalan dengan tenang. Jam pun menunjukkan pukul 1, akhirnya aku pamit pulang ke kang Asep. Tentunya dengan uang, apa yang telah ku perbuat sesudah memakan nasi gorengnya, karena dia bilang tidak gratis.

Berapa kang?
13 ribu mas sama air minumnya
Oh..”  ku beri 15 ribu dan langsung pergi.
Tunggu mas sisanya?
Ambil aja kang gapapa, saya baik kok.
Oiya mas makasih banyak, sering-sering mampir ya
Ok siap kang.

Marilah berfikir positif. Bukan mau sombong, tapi sesekali jadilah orang dermawan, toh sisanya cuma 2 ribu, agar dia berfikir saya orang baik benaran.

Bersambung..
Contoh novel "bulan dan bintang" .

Edisi Anekdot Baik-Baik, oleh Manusia Baik. 



Komentar

What's on?

Tentang Aku dan Sebuah Tragedi

Islamic Tolerance

Andai Kata Dunia..

Bukan Mahabarata

ILY