Miss-Understanding

Penting, tak penting, ya penting!
Tentang sebuah daily
yang tak begitu berarti –menurut sebagian orang-, namun amat menusuk hati bila
diabaikan. Amati, teliti, pahami. Terlihat
mudah, terbukti susah. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita temui hal berwarna-warni. Mulai dari ragam
warna pelangi, sampai warna yang tak terdefinisi. Mengenai makna dari sebuah
makna, persepsi orang pasti berbeda-beda. Tergantung bagaimana sudut pandang
dan penafsiran mereka akan suatu hal. Maka dari itu, diperlukan adanya
pengamatan yang mendalam. Bagaimana bisa menyimpulkan sedang kita tak pernah
memperhatikan? Kembali, melek.
Bermacam ragam anugerah yang Tuhan titipkan,
menciptakan perbedaan warna yang mencolok. Meski antara oranye dan jingga
hampirlah sama, meski hijau memiliki banyak cabang warna, antara satu dan
lainnya pastilah berbeda. Yang penting, bagaimana manusia mampu memilah dan
memilih setiap hal yang dihadapinya. Mana yang benar, mana yang salah? Apakah semua
benar, atau semua salah? Hasil dari mengamati tadi, dilanjutkan dengan
meneliti. Jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, tak baik kita bertingkah
gegabah. Perlahan tapi pasti, kita coba resapi dengan mendengar kata hati. Tak mungkin
cahaya Ilahi ini membohongi, ya, kan?
Putih berasal dari Tuhan, sedang warna lain manusia lah
yang ciptakan. Sebuah spektrum, pernah dengar? Putih yang terpercik melahirkan
warna baru manusia. Tapi bagaimanapun juga, ratusan warna dalam satu lempengan
yang diputar cepat, akan kembali menunjukkan warna dasarnya. Putih. Begitulah manusia, apapun warna
yang dihasilkan, tetap saja suci
mulanya. Dari sinilah kita bisa mulai memahami sesuatu setelah mengamati dan
meneliti. Terlihat warna merah padam di wajah si Fulan, kita mencari tahu mengapa
demikian? Oh, rupanya si Fulan sedang menahan emosi, jadi janganlah kita kacau
ia pula.
Sebenarnya, warna hanyalah perumpamaan semata. Amati, teliti, pahami bermula dari
kecerobohan saya dalam menangkap makna pesan berantai. Bagaimana cepatnya berita menyebar
dalam abad ini membuat otak turut membaca memindai, akhirnya terlewat lah inti
pesan yang disampaikan. Berbahaya. Pesan
saya, berhati-hatilah. Terlalu banyak jebakan yang menghadang namun kita dengan
santai terperangkap ke dalamnya. Toh, ada pula yang sudah terperangkap,
tertangkap, malah melambai-lambai bangga.
Si rompi oranye tersenyum di depan kilatan tak berlistrik dan kardus hitam mahal. Eum, oranye atau jingga??
Edisi Getirku
Malam Ini, oleh Calon Sarjanawati.
Komentar
Posting Komentar