Hujan

Engkau yang selalu dinanti dan kadang ditakuti. Pintu-pintu rumah mulai terkunci. Anak oleh ibunya dipaksa untuk berdiam diri di dalam rumah sendiri. Sehingga lorong-lorong jalan tampak sepi. Matahari kian terbenam dan malam mulai menyelimuti. Cahaya redup lampu jalanan menyinari. Cahaya kilat sesekali menyinari, menyilaukan mata seketika. Angin dingin mulai menghembus. Engkau yang dinanti dan ditakuti mulai perlahan turun membasahi Bumi ini.

Hujan nama ku. Aku tahu, banyak manusia mengeluhkan kehadiran ku. Turunnya aku terkadang tak disyukuri lagi. Kenapa aku, kamu takuti serta kamu sesali? Tetapi aku tahu, masih banyak manusia yang mengerti dan selalu menanti kehadiran ku ini. Hakikat aku turun di Bumi, bukan hanya pada pembahasan biologi, apa lagi fisika dan kimia. Terima kasih Tuhan, telah Engkau izinkan aku membasahi Bumi yang telah manusia rusak ini.

Maafkan kami Tuhan, yang takut akan pemberian-Mu. Aku bodoh karena terlalu takut akan kerugian yang tak sebanding dengan manfaat yang Engkau beri. Mungkin rancangan acara kami gagal, perjalanan kami terhambat. Akan tetapi, pepohonan tumbuh subur dan membuat buahnya lebat, akses air tak lagi terhambat.

Sebelum dijemput oleh Malaikat, tidak ada kata terlambat untuk bertobat.

Edisi Malamku Dinginku, oleh Watermark.

Komentar

What's on?

Tentang Aku dan Sebuah Tragedi

Islamic Tolerance

Andai Kata Dunia..

Bukan Mahabarata

ILY